Masih terus UP date

Warna benderanya ABU-ABU

29 Feb 2016 - 16:18 WIB

Ketika diberi dua pilihan tidak semua orang bisa memilih salah satu diantaranya , kadang ada yang ingin dengan pilihan ketiga. Ketika diberi pilihan warna hitam dan putih  ada kemungkinan  yang memilih warna abu-abu. Beberapa cerita dulunya sekedar humor  kini  justru menjadi cerita yang nyata. Salah satu cerita ketika seorang perampok memberikan pilihan pada korbannya antara “harta atau nyawa”, ada jawaban lucu dengan pilihan “atau”nya.

Ibarat memakan buah Simalakama menjadi sebuah pilihan sulit antara makan mati dan tidak makanpun juga mati. Kemungkin tidak berlaku saat ini karena ada yang mencari kesempatan untuk pilihan ketiga atau memilih buah yang lain. Cerita seorang Ibu meminta kesembuhan anaknya kepada Tuhan dan Tuhan pun menjawab permintaan si Ibu  dengan memberi pilihan antara kesembuhan si anak atau keselamatan ibunya . Jawaban itu bila dilontarkan seorang ulama pada jamaahnya pasti terdengar jawaban kompak memilih Keselamatan anak dan ibunya. Dalam masa perjuangan dahulu ada istilah “Merdeka atau Mati” bila ungkapan itu dilontarkan lagi pada anak 4L4Y jaman sekarang akan banyak yang lebih memilih untuk “Merdeka dan hidup”.

Salah satu tokoh Proklamasi yang pasti anda kenal yaitu Bung Hatta Pernah bersumpah demi melawan Negara Singapura karena keputusan hukuman mati pada dua Pahlawan Nasional RI, yakni Usman Haji Mohamed Ali dan Harun Said, atas tuduhan pengeboman Gedung Macdonald Orchad Road pada 10 Maret 1965, yang kemudian keduanya dieksekusi di Singapura pada 17 Oktober 1968, membuat pemerintah dan rakyat Indonesia pada waktu itu sangat marah pada Singapura.

Tetapi di saat yang lain meneriakkan kata “perang” melawan Singapura sebagai bentuk kemarahan, Bung Hatta melakukan protes dengan cara yang lain. Sebagaimana diungkapkan sejarawan Asvi Warman Adam kepada Media Indonesia (11/2), sejak eksekusi mati atas Usman-Harun dilakukan oleh Singapura, Bung Hatta berkata pada istrinya bahwa ia bersumpah takkan pernah menginjakkan kakinya di Singapura, baik menghadiri undangan maupun singgah sementara. Dalam catatan sejarah, sejak saat itu hingga beliau wafat pada tahun 1980, belum pernah sekali ‘pun menginjakkan kakinya di Singapura. Banyak cerita yang bisa kita cari pada sosok Bung Hatta mengenai sebuah keteguhan sikap dalam mempertahankan prinsip hidupnya. Bahkan pemberian hukuman penjara karena mempertahankan idealisme pun dijalani karena beliu sadar dari sikap itulah hidupnya itu menjadi berarti.

Masih banyak cerita dari masa lalu yang menggambarkan sebuah pengorbanan atau resiko dalam pengambilan keputusan-keputusan yang sulit. Mengambil sebuah keputusan berani dari 2 pilihan yang sulit dalam kenyataan yang terjadi sekarang ini bagi sebagian mungkin tak akan berani. Tak adil bila hanya orang saat ini saja yang dikatakan seperti itu. Dulu dalam masa perjuangan juga banyak yang bersikap abu abu untuk kepentingan sendiri, hingga disebut sebuah “Penghianat”. Tetapi untuk sekarang apakah orang yang bersikap abu-abu juga disebut “Penghianat”.

Cerita Ken Arok yang ditulis oleh Pramodya Ananta Toer berkisah tentang sebuah kudeta pertama di Nusantara. Kudeta licik tapi cerdik. Ken Arok adalah simpul gabungan antara mesin paramiliter licik dan politisi yang cerdik-rakus (dari kalangan sudra/agrari yang merangkakkan nasib menjadi penguasa tunggal tanah Jawa). Ken Arok tak mesti memperlihatkan tanganya yang berlumur darah mengiringi kejatuhan Tunggul Ametung di Bilik Agung Tumapel, karena politik tak selalu identik dengan perang terbuka. Politik adalah permainan catur diatas papan bidak yang butuh kejelian, pancingan, ketegaan melempar umpan-umpan untuk mendapatkan peruntungan besar. Tak ada kawan dan lawan. Yang ada hanya tahta dimana seluruh hasrat bisa diletupkan sejadi jadinya.

Saat ini makin susah mencari yang namanya “penghianat”, seperti Ahok yang dikatakan penghianat pada partainya,  Jokowi apakah juga seorang yang setia?? Ah terlalu tinggi saya menggambarkanya.

Di era sekarang dalam sebuah komunitas masih ada lagi beberapa kelompok kecil, dimana kelompok kelompok kecil ini mulai berbeda pendapat dengan kelompok kecil lainya. Ketika anggota dari kelompok kecil tersebut bersitegang dengan anggota kelompok kecil lainya. Lihatnya yang terjadi…

Seseorang yang memiliki pengaruh akan membentuk opini dalam kelompoknya untuk mengambil sikap yang berbeda dengan kelompok lainya. Dimana kebenaran opini itupun masih diragukan, tetapi anggota kelompok kecil ini akan membela mati matian untuk kelompoknya. Begitupun juga kelompok yang lain akan membela mati matian juga. Lebay ah kayaknya nggak sampe mati. Itu masih dalam satu komunitas yang kecil. Tetapi mungkin juga dalam satu komunitas yang lebih besar dan besar lagi juga seperti itu.

Iku lak menurutku, dianggap sok tahu ya terserah kan itu juga mulutku yang bukan harimauku. Trus hubunganya apa dengan yang abu abu??

Abu abu itu gak jelas, antara memilih satu warna Hitam  atau putihpun nggak berani akhirnya memilih Abu abu yang memberi keuntungan buat diri sendiri. Sekarang makin membingungkan, seorang yang terlihat baik juga dilalah jelek. Pakai baju koko dan berpeci yang terlihat alim ternyata juga korupsi. Para preman dijalanan yang terlihat “sangar” malah yang paling sigap membantu ketika ada kecelakaan dijalan.  

Ustads yang sering tampil ditipi jebule penipu. Pemilik stasiun tivi yang notabene nasrani juga menggunakan baju muslim. Para Tokoh yang berbicara masalah simpati ternyata pingin promosi. Mengajak bersolidaritas untuk membantu rupanya hanya ingin kasih tahu. Orang orang yang lain juga begitu, bergaya kaum borju asline pembantu. Orang yang kaya bermanipulasi agar dapat dibantu, orang miskin makin ingin saling mengganggu. Yang berniat buruk di puja puja karena pada nggak tahu. Yang sungguh-sungguh berniat baik makin banyak ditipu. Yang dianggap guru tak bisa ditiru, muridnya bisanya cuma mengeluh.

Seandainya warna hitam dan putih itu adalah Bendera Merah Putih, sebuah pusaka yang memiliki derajat tinggi bagi penduduk Indonesia. Memiliki makna merah sebagai darah dan putih adalah tulang, dan melambangkan sebuah keberanian sikap dalam berkorban kemungkinan sebagian masyarakat akan berposisi  Abu-abu dalam pilihan warnanya.  Sehingga akan banyak yang mengibarkan bendera yang berwarna ABU-ABU.

 

 

 


TAGS   Indonesia terkadang hebat / Nusantara /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive