Masih terus UP date

Dunia Khayalan

15 Jan 2016 - 06:55 WIB

Media Massa itu apa???? Media Sosial itu siapa???

Akhir-akhir ini saya mulai menahan diri dalam membuat status di media sosial, bukan karena tak memiliki bahan untuk dipublikasikan ataupun kesabaran untuk berkomentar. Tetapi saya mulai kehilangan selera untuk update status dan berkomentar.

Dengan banyaknya undangan yang saya terima entah kenapa semua rencana untuk menuliskan sebuah reportase kembali menguap ketika tangan ini menyentuh keyboard laptop. Saya sadari bahwa keinginan pihak yang mengundang adalah agar kita juga memberikan timbal balik berupa tulisan hasil dari informasi yang diberikan pada saat mengikuti acara.

Netizen atau pegiat media sosial sekarang mulai diperhitungkan dalam membantu promosi sebuah produk ataupun sebuah lembaga yang ingin mengembangkan bisnisnya. Sehingga peran para netizen lebih banyak digunakan untuk membantu promosi  yang efesien. Personalitas netizen lebih mudah diterima karena lebih dekat dengan para konsumen yang membacanya.

Gaya bahasa yang bebas dan terkesan natural dalam memberikan informasi dapat diterima masyarakat daripada prinsip jurnalis atau teknik penulisan. Dukungan internet yang luar biasa mampu digunakan para netizen untuk berkomentar sebebas bebasnya sesuai dengan semua isi pikiran dan hatinya.

Saat ini dengan adanya internet arus informasi lebih cepat tersebar dan diterima oleh masyarakat. Media massa yang awalnya sebagai pusat informasi yang pertama kini  kalah cepat dengan informasi yang tersebar di media social. Semua orang yang bermedia social kini adalah para pembuat informasi yang terbaru.

Media sosial kini menjadi media informasi nomor wahid didunia, semua orang berlomba lomba memberikan infomasi yang terbaru. Semua orang kini menjadi sumber informasi yang pertama, semua orang berlomba lomba untuk ditonton bukan lagi yang menonton. Bila Media Massa hanya mengulas dari beberapa sudut media sosial mengulas semua sudut dengan  penggalian informasi yang beragam.

Tetapi akibatnya informasi menjadi bias, tak jelas dari mana sumbernya. Arus informasi yang begitu banyaknya dengan pemberi informasi yang makin tidak jelas maksudnya. Dan pengalihan tanggung jawab berujung pada siapa yang menerimanya.

Ibarat arus informasi itu bola panas, bola panas itu malah semakin besar dan berputar liar ke segala penjuru tanpa ada yang bisa mendinginkanya walaupun akhirnya akan menguap menjadi asap dengan sendirinya.  Yang terjadi informasi itu kini menjadi lelucon yang asyik untuk ditertawakan tak perduli berita duka ataupun suka cita semuanya menjadi hiburan yang menggembirakan.

Tak ada yang merasa menyakiti walaupun banyak yang tersakiti. Tak ada yang merasa menghinakan walaupun banyak yang terhinakan. Tak ada yang merasa menfitnah walaupun banyak yang terfitnah. Tak ada yang terkontrol malah makin banyak yang mengontrol. Tak ada yang merasa buruk walaupun banyak yang buruk.

Semuanya adalah sumber berita dan semuanya adalah pembaca berita. Semuanya adalah yang menuduh tak ingin ada yang menjadi tertuduh. Semuanya adalah ingin dikenal dan semuanya juga ingin mengenal. Semuanya ingin berkomentar dan ingin dikomentari. Hingga semuanya adalah yang dicurigai karena semuanya saling mencurigai. Tetapi ketika semua ingin diuntungkan semuanya malah tak sadar siapa yang justru diuntungkan.

Semuanya selalu ingin menilai tanpa ingin dinilai, semua ingin mengkritik dan lari bila dikritik. Semuanya ingin dibuka tanpa perlu membuka diri. Semua selalu berdebat walaupun tanpa solusi. Semua ingin pembenaran dan tak mau dibenarkan. Semuanya beradu literasi  walaupun sedikit memahami. Dan semua berargumentasi dan tak mau menfiltrasi.

Padahal semuanya sudah memahami bahwa itu dunia maya dan tak ingin ada didunia nyata. Seolah olah sudah berada dalam dunia kesadaran, yang tahu bahwa candu itu memabukkan tetapi sangat ingin larut dalam  dunia khayalan tanpa ingin terbangun didunia nyata selamanya.

Ketika larangan berada di dunia khayalan itu hanyalah hal yang menggelitik, pelanggaran itu adalah sesuatu yang asyik. Moral itu tak menarik, etika itu hanyalah cerita klasik. Sisi gelap akhirnya menjadi daya tarik sehingga perlu untuk diekplorasi dan dieksploitasi.

Tak ada lagi keraguan untuk bertindak diluar batas, tak ada lagi penyesalan dalam berbuat kesalahan. Semua itu hanyalah sebuah kesenangan tanpa tahu siapa yang dikorbankan. Toh semuanya kini hanyalah dunia khayalan….

Akhirnya hanya moral yang mampu mengontrol ketika hukum belum mampu menjamahnya. Kalaupun hukum sudah berbuat maksimal masih ada celah yang mampu dimanfaatkan untuk berkilah. Media massa yang seharusnya pemberi kabar terkini, terkadang kini yang menerima kabar. 


TAGS   Dunia maya / dunia internet / Media sosial /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive