Masih terus UP date

Turun Kasta

20 Sep 2015 - 01:05 WIB

Sumber : Googling

Kasta Brahmana adalah sebutan untuk orang yang memiliki kualitas kepribadian, kecerdasan, kebijaksanaan yang membuat orang tersebut layak/pantas/cocok untuk menjadi resi, pendeta, kiyai, romo, guru, atau ilmuwan.

Kasta Ksatria adalah sebutan untuk seseorang yang terlahir dengan sifat pemberani, jujur, tegas, konsekuen, loyal dan berdedikasi. Orang dengan sifat bawaan seperti ini akan sangat cocok mengemban tugas-tugas manajerial, birokrasi, kemiliteran dan sejenisnya.

Waisya adalah warna manusia yang membawa watak dan bakat alam (kecerdasan dan kreativitas) yang cocok untuk menjalankan usaha-usaha produktif seperti bertani, berdagang, nelayan dan sejenisnya.

Sudra golongan /status social, melainkan warna manusia yang memiliki tingkat kesetiaan, ketaatan/kepatuhan tinggi dan penurut.

sumber : Kenedi 

Kasta bila dalam pengertian sebuah sistem sosial yang membagi status sosialnya berdasarkan sifat dan kemampuan dirinya dalam bermasyarakat.Di Bali sendiri saat ini di kalangan umat Hindu sudah lama digugat akibat pemahaman yang salah tentang esensi dan praktiknya.Kasta itu berlaku untuk mengukur tingkat derajat manusia, semakin bijak seseorang derajatnya makin tinggi dimata tuhan dan juga dimata manusia. sehingga kasta itu akan dapat dirasakan oleh manusia bukan gelar yang disandang sejak lahir.

Tetapi pada masa kolonialisme Kasta dirubah konsep dalam bentuk Feodalisme kemungkinan bertujuan politik agar para penguasa bisa seterusnya menjadi penguasa dan kasta Sudra sebagai pelayan akan tetap menjadi keturuan pelayan selamanya.

Tetapi bila kita mengingat sejarah Singosari seharusnya kita bisa belajar bahwa Penerapan Kasta yang benar pernah diterapkan jauh sebelum Majapahit berdiri. Gelar Ken disandang Arok setelah dia menjadi penguasa Tumapel dan mendirikan kerajaan Singosari. Ken Artinya Sang Pembangung (Pramoedya Ananta Toer)

Arok berasal dari Kasta Sudra yang memmiliki sifat seorang Brahmana karena langsung berguru pada Lohgawe yang seorang Resi besar pada masa itu. Arok adalah seorang berkelakuan Ksatria yang mampu mengalahkan Tunggul Ametung yang juga berasal dari Ksatria dengan kecerdasannya. Taktik yang diterapkan Arok mampu meminimalisir korban dari pihaknya sehingga membuat Tunggul Ametung tak berkutik menghadapi Arok. 

Pak Soekarno Memiliki Bapak seorang Guru dimana beliau bisa dikatakan dari kasta Brahmana. Pak Soeharto dari orang tua yang berasal dari petani (Wasya) dan berkelakuan Ksatria. Pak Habibie juga berasal dari keturunan petani. Gus Dur adalah cucu pendiri NU yang berarti pendahulunya adalah seroang Brahmana. 

Ibu Megawati Sudah jelas ayahnya adalah seorang Brahmana dan berperilaku Ksatria. Pak SBY sebagai keturunan dari seorang Raden Soekotjo dan Siti Habibah dari golongan Ksatria. Pak Jokowi berasal dari keturunan Lurah dalam hal ini termasuk dalam Golongan Ksatria.

Ternyata bukan hanya Agama Hindu saja yang menerapkan Kasta di Agama lain termasuk Islampun dimasa modern saat ini malah orang tanpa sadar menerapkan kasta. Padalah di Jaman Walisongo sudah berusaha untuk menghapuskan kasta dari pikiran orang sehingga lebih mudah mengenalkan konsep Islam pada penganut agama Hindu.

Kita coba rasakan bagaimana Seorang Pejabat negara tentu tak akan mau menikahkan anaknya pada golongan orang biasa yang dianggap derajatnya lebih rendah dibanding dirinya. Seolah olah derajat manusia itu diukur pada tingkat kekayaan. Dan sebagai seorang pelayan yang telah mengabdikan diri pada seorang pejabat tinggi tak akan mengijinkan pikirannya sendiri dan keturunanya untuk memiliki mimpi yang tinggi.

Derajat dan kasta itu saat ini seoalah berbeda tipis dipahami manusia sehingga semua orang mengukur derajat dan kasta tinggi adalah dengan harta dan kekuasaan (tahta, jabatan).Padahal bila kita kembali lagi Derajat itu adalah haknya tuhan yang menilai dan manusia hanyalah merasakan tanda tandanya.

Indonesia sendiri sudah salah menerapkan nilai Kasta dan penilaian sebuah derajat kemanusiaan. Sehingga setiap orang menganggap untuk menaikan derajatnya adalah memperkaya diri dengan harta dan tahta.

Pejabat negara dalam susunan kasta adalah seorang Ksatria tetapi dalam perilakunya tidak memiliki jiwa Ksatria yang memiliki sifat pemberani, jujur, tegas, konsekuen, loyal dan berdedikasi. Karena saat ini para pejabat negara adalah seorang Wiraswasta/ Pedagang yang menggunakan kesempatan sebagai seorang penguasa.

Sehingga bila kita merasakan hampir semua pemimpin dan penguasah negara saat ini mulai menurunkan Kastanya sendiri sendiri sebagai seorang Waisya

 


TAGS   Kasta / arti kasta /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive