Masih terus UP date

Menikmati Bandung tempo dulu dalam novel Tragedi Gadis Paris Van Java

17 Dec 2015 - 17:53 WIB

“Bangsa Eropa selalu menepuk dada, bangga kepada karya mereka yang telah menciptakan abad modern ini. Padahal kalau membuka buka lagi buku sejarah lama, justru orang Timurlah yang lebih dahulu menemukan berbagai ilmu pengetahuan yang kini diadaptasi orang orang Eropa. Ilmu matematika, kimia, ilmu bumi dan kedokteran itu berasal dari dunia islam yang waktu itu berpusat di Cordoba, kini Spanyol. Bangsa-bangsa Arablah yang pertama kalinya mampu menaklukan dunia Barat, yaitu menduduki Spanyol sampai berabad- abad lamanya. Ketika kota-kota di Eropa masih gelap dan becek, kota kota di negeri-negeri Arab sudah penuh dengan bangunan indah yang terang benderang. Disusul dengan kejayaan bangsa Mongol di bawah Jenghis Khan menaklukan Rusia, Eropa Timur sampai ke Wina di Swiss dan Venesia di Italia. Lalu pada abad modern giliaran Jepang yang menaklukan Rusia.

Dari peristiwa masa lampau ini, saudara- saudara, kita bisa mengambil hikmahnya, bukan kita pro ekpansi Jepang baru baru ini, tapi setidaknya ada pelajaran yang bisa dipetik, bahwa kepongahan bangas Eropa atau superioritas kultural, bahwa bangsa Kaukasia atau Eropa yang lebih unggul daripada bangsa Asia, ternyata telah terpatahkan dengan serangan pesawat jepang yang gagah berani itu. Kita harus bangga bahwa bangsa Asia ternyata mampu mengalahkan bangsa kulit putih.”

 

Tulisan itu ada penggalan dari tulisan salah satu tokoh di dalam sebuah novel karya GANU VAN DORT dengan judul “Tragedi Gadis Paris Van Java” sebuah novel yang berlatar belakang kota Bandung di tahun 1937 hingga tahun 1951. Dalam novel itu bercerita tentang seorang Dokter bernama Fatimah yang sebelum memeluk agama Islam bernama Laura Hessel. Putri dari seorang Profesor ternama di Bandung pada waktu itu bernama Jansens Kloosmayer yang memiliki kode formula MAPKK sebuah formula rahasia ciptaanya, dan akhirnya membawa petaka baginya dan keluarganya.

Tokoh utama novel ini adalah seorang Gadis Belanda Laura Hessel yang akhirnya menikah dengan seorang teman SMAnya bernama Djaja Soeriadiredja dan merubah namanya menjadi Fatimah. Tragedi yang dialami Laura berawal dari pembunuhan misterius yang dialami oleh kedua orang tuanya, menyebabkan sebuah trauma dan teror yang terus menerus terjadi padanya selama berada di Kota Bandung.

Laura Hessel mulai menjalin kasih dengan Djaja Soeriadiredja semenjak ia diselamatkan dari kekasih sebelumnya yang juga teman SMA mereka berdua. Sejak kejadian tersebut mereka berdua saling berjuang dalam menghadapi teror misterius yang dialami sang gadis Laura Hessel.

Setamat SMA Laura Hessel Melanjutkan studinya sebagai seorang Dokter di Batavia, sedangkan Djaja Soeriadiredja melanjutkan pendidikannya ditempat kursus jurnalis “Ksatrian Instituut” pimpinan Douwes Dekker. Douwes Dekker yang seorang Pendiri Indische Partij atau partai pertama di Hindia Belanda bersama Dr. Cipto Mangunkusumo dan Soewardi Soerjaningrat, merupakan guru dari para pemimpin besar pendiri negara Indonesia tentu membuat Djaja sebagai seorang yang kritis terhadap hal hal yang terjadi di Hinda Belanda pada waktu itu. Seperti halnya tulisan yang ada diawal adalah tulisan Djaja yang diterbitkan di Surat kabar DE Vrije Pres tempanya bekerja.

Yang menggugah saya dan mungkin ingin disampaikan dari Novel ini bahwa dengan kita mempelajari sejarah masa lalu, kita seharusnya makin bangga dengan kebesaran bangsa kita yang saat ini mulai tergerus oleh bangsa asing seperti halnya ketika Belanda menjajah Nusantara.

Kisah Romantis di novel ini sangat memikat dengan menjelaskan ke indahan kota Bandung yang bangunannya meniru arsitektur di Eropa. Keindahan kota Bandung juga di gambarkan dengan pujian hingga mendapat julukan “Tuinstad” atau kota kebun karena banyak taman-taman yang meronai di setiap sudut jalan. Dengan memasukan unsur sejarah dan bahasa Belanda oleh penulisnya Ganu Van Dort yang entah ada hubunganya atau memang beliau lah “Wieteke van Dort” seorang wanita kelahiran kota Surabaya yang menetap di Den Haag Belanda, seorang aktris dan penyanyi terkenal disana pada tahun 70an. Dari Novel ini saya malah menikmati keindahan dan romatisme sejarah sehingga menjadi nostalgia para pemuda yang hidup pada masa sebelum kemerdekaan.

Novel ini bukanlah sebuah cerita politik, agama maupun sejarah Bandung masa lalu , cerita dibangun seolah olah berdasarkan dari pengalaman yang dialami sang penulis sendiri. Bagi saya novel ini bukan saja menghibur tetapi juga mendidik pembacanya dengan tulisan-tulisan Djaja sebagai seorang wartawan berikut penggalan tulisannya:

“Agama dan filsafat Islam sampai di Indonesia sesudah melampaui puncak kejayaannya di Baghdad. Antara abad ke-9 dan ke-10, Baghdadlah pusat politik dan kebudayaan Islam. Masa itulah hidup punjangga besar Islam, dan ahli fikih, mulai dari Ahmad ibn Hanbal, imam mazhab Hambali, Ibn Idris Syafi’i, Imam Mazhab Syafi’i, dan banyak lagi. Sempurnalah sudah ilmu pengetahuan yang merak warisi itu. Mari kita renungkan, tugas orang islam yang hidup dikemudian dari tokoh-tokoh besar itulah harus memelihara sebaik-baiknya yang diterima sebagai warisan. Tapi apa yang terjadi? Ilmu pengetahuan Islam menjadi beku, tidak bertambah lagi. Sebab mereka hanya mengulang-ulang dan mengunyah- ngunyah pendapat ahli-ahli yang terdahulu itu. Inisiatif mereka menjadi mati karena Taklid. Namun ini semua, tidak bisa kita salahkan seluruhnya pada umat islam sekarang. Tapi karena andil bangsa-bangsa barat jugalah yang mulai menjajah negara- negara Timur pemeluk Islam, termasuk di Hindia Belanda ini. Hasilnya adalah agama, sikap hidup dan kebudayaan islam tidak lagi diperkaya dengan hasil-hasil pendidikan yang baru, karena terlarang atau dilarang oleh penguasa alias gubernemen. Membaca kitab Al-Qur’an sekadar membaca dan tidak digali, apalagi diamalkan.”

 

Bagi saya Novel ini sedikit banyak memberikan kita Informasi bahwa sebagian orang-orang Belanda yang kita cap sebagai penjajah itu ternyata begitu mencintai Indonesia. Mereka bergaul dengan rakyat pribumi. Cinta mereka terhadap Indonesia sama seperti cinta mereka terhadap Negerinya. Mereka bersedih ketika Indonesia jatuh ke tangan pemerintah Jepang. Mereka juga ikut merasakan bagaimana kekejamnya tentara Jepang ketika menjajah Indonesia.

 

Dag Bandoeng, ik herineer je altijd


TAGS   Bandung Tempo dulu / Bandoeng Tempoe doloe / Review novel Tragedi Gadis paris van java /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive