Masih terus UP date

Belajar lagi bahasa daerah

3 Oct 2015 - 18:32 WIB

sumber : Googling

 

 

Jowo digowo, Arab digarab, barat diruwat

Ungkapan orang Merapi yang kini mulai banyak di Ungkapkan oleh salah satu budayawan dalam acara dipengajianya. Yang diartikan bahwa dimanapun kita berada asal usul kita haruslah tetap diingat dan jangalah dihilangkan dan ungkapan ini bukan hanya untuk orang jawa saja tetapi juga semua masyrakat Indonesia

Sebagai seorang yang berasal dari Jawa maka jagalah budaya sebagai orang jawa, sebagai orang bugis kenalilah budayamu sebagai orang Bugis. Sebagai orang batak pahamilah adat sebagai orang Batak. Sebagai Orang Papuapun ketauhuilah kekayaan budaya yang dimiliki oleh orang papua.

Arab digarap memiliki arti bahwa ilmu agama itu haruslah terus dipelajari, bukan hanya dari satu sumber tetapi banyak sumber ilmu yang bisa kita gali. Sehingga kita memiliki kekayaan ilmu yang tak gampang terpengaruh dengan informasi palsu dari orang lain.

Barat diruwat, ruwat bisa diartikan dari pembersihan/saring. Yang bila saya boleh memaknai bahwa segala budaya yang berasal dari luar negeri itu seharusnya tidak langsung diterima tetapi kita pelajari dulu tentang sisi positif dan sisi negatifnya.

Ki Hajar Dewantoro yang memiliki nama Asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat adalah pendiri taman Siswa dan menjadi menteri Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia ke-1 ini adalah penggagas dihapuskanya Pelajaran Bahasa Belanda dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.Hal ini dilakukan untuk menggugah semangat Nasional para pemuda pada waktu itu agar berjuang untuk Indonesia di Jalur pendidikan.

Ungkapan Presiden Soekarnopun lebih tegas menggugah “Jangan sekali kali melupakan sejarah(jasmerah)”. Dan bersama sama bung Hatta menyakini bahwa negara Antlantis itu adalah negara Indonesia.

Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya berhasil menyatukan berbagai kerajaan bukan dengan menaklukan tapi merangkul para petingginya hingga mau bergabung dengan Majapahit dengan Nusantaranya. Sehingga Boleh menyebut Nusantara/nuswantara adalah perkumpulan bangsa bangsa yang dilanjutkan oleh para walisongo dengan konsep tanah perdikannya.

Hingga datanglah sebuah masa kolonial yang diawali dengan Portugis dan dilanjutkan dengan Belanda menggunakan taktik adu domba sehingga beberapa kerajaan di Nusantara saling bermusuhan. Awal tahun 1900an muncullah tokoh tokoh nasional yang mulai berikrar untuk bersatu, tetapi sangat disayangkan pada saat itu makna kesatuan dari beberapa kerajaan menjadi kecil hingga menjadi pesatuan suku suku bangsa.

Pada Jaman orde baru presiden Soeharto dalam setiap pidatonya selalu menggunakan bahasa Indonesia yang menggambarkan jiwa naionalismenya sebagai pemimpin bangsa.

Bahasa daerah memiliki tingkatan yang lebih rumit daripada Bahasa persatuan Indonesia. Pada tahun ajaran 2013/2014 terjadi sebuah pro dan kontra mengenai pengapusan pelajaran bahasa daerah yang dianggap tidak memberikan kemajuan karena lebih menitik beratkan pelajar bisa bahasa persatuan Indonesia dan bahasa Asing.

Sebenarnya tanpa dihapus skalipun pelajaran bahasa Daerah sudah mulai diremehkan. saat ini para orang tua lebih banyak mengenalkan bahasa Indonesia pada anaknya dibandingkan mengajari anak untuk mengetahui bahasa daerahnya.

Saya sebagai orang jawa jujur saja mengalami kemunduran untuk mengenal bahasa jawa yang terdiri dari beberapa tingkatan. Generasi sayapun mungkin juga seperti itu sehingga juga kesulitan untuk mengenalkan bahasa jawa dengan beberapa tingkatanya pada generasi selanjutnya.

Dalam generasi saya bahasa Asing (Asing), yang (bernarkah lebih keren) lebih banyak dipelajari dan menjadi tuntutan di era Industri global. Sehingga bila menguasai bahasa Asing (dianggap) lebih mampu bersaing dengan masyarakat dunia.

Tetapi bernarkah dengan kita lebih menguasai bahasa Asing itu akan mampu bersaing, ingatkah kita bahwa orang asing saat ini juga lebih giat untuk mengenal bahasa daerah (budaya daerah) kita.Bangsa Belanda mampu menjajah selama 350 karena mempelajari budaya Indonesia termasuk bahasanya.Apakah saat ini kita juga akan melepas/ melupakan bahasa Daerah agar bisa bersaing dengan Bangsa Asing.

Banyak cerita para pelajar yang melakukan pertukaran pelajar dengan bangsa asing itu selalu dituntut untuk menampilkan pengetahuan tentang budaya daerah masing masing. Apakah sebelum kita mempelajari budaya/bahasa asing bukankah kita juga harus memahami budaya/bahasa daerah terlebih dahulu, mungkin kah kita kalah gengsi.

 


TAGS   bahasa daerah / belajar bahasa daerah /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive