Masih terus UP date

Belajar dari Tragedi Everest 1996

25 Sep 2015 - 02:30 WIB

Sumber goolge

Gunung Rinjani 16 Agustus 2008
Entah pertimbangan apa sehingga dipilihlah saya dan 2 orang teman untuk mendampingi seorang cewek untuk tetap bisa melalui jalur 7 bukit penyesalan. Bukan hanya bergantian mendampingi saja tetapi juga bergantian membawa barang si cewek ini. 3 orang bergantian membawa 2 carier demi untuk satu cewek agar tetap bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak pelawangan sembalun.Meskipun akhirnya carier si cewek dibawah sendiri oleh orang yang
memberi perintah atau seorang leader kami tetapi mendampingi dan pemandu seorang pendaki agar tetap mau melanjutkan pendakian di jalur tersebut juga tidaklah gampang.
Puncak Pelawangan sembalun 17 Agustus 2008 pukul 1 dini hari.
Angin kencang yang menerjang tenda kami menandakan cuaca pada waktu itu tidaklah terlalu bagus, meskipun hujan tidak menunjukkan tanda tandanya. Puncak Pelawangan Sembalun (2639 mdpl) kinijadi titik awal kami untuk melakukan summit attack. Yang menjadi gusar pada waktu itu ternyata cewek tadi akhirnya mengambil keputusan untuk tetap ikut ke puncak. sebagai
seorang leader akhirnya KJ sebut saja demikian memanfaatkan 5 porter yang mendampingi tim kami dari awal. satu orang porter menjaga camp satu orang bertugas mendampingi si cewek sisanya sebagai pemandu jalan dan pendampingi tim kami yang terdiri dari 20 orang pendaki untuk menuju puncak.
Pukul 5 pagi WITA ketika kami sudah mulai bisa mengandalkan cahaya matahari sebagai penerangan ternyata masih belum mampu menyelesaikan hambatan kami di jalur pasir menuju puncak Rinjani. Karena rombongan kami yang terlalu banyak dan si cewek tadi berada diposisi depan sehingga menjadi hambatan selain pasir tentunya. Cahaya matahari membantu kami untuk
melihat kondisi alam lebih luas. Sebagai leader KJ juga mulai emperhitungkan semua gejala alam yang terjadi. Di atas puncak Rinjani terlihat awan yang berputar dan memberikan tanda buatnya untuk mengambil keputusan penting antara melanjutkan ke puncak atau harus kembali ke camp. akhirnya sebuah keputusan yang membuat semua peserta dari berbagai daerah di Indonesia harus kecewa karena Puncak yang sudah terlihat jelas dimata kami dan hanya butuh satu jam perjalanan harus kami lupakan.
Tetapi itu tak menyurutkan nyali beberapa pendaki di tim kami sehingga ada sekitar 6 pendaki yang tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak tanpa menunggu persetujuan dari sang leader. Meskipun keputusan para pendaki itu adalah hak, dan memang secara hukum kejadian apapun di alam adalah tanggung jawab pribadi, tetapi sebagai leader beban moralnya adalah ketika sesuatu yang tak diinginkan itu bakalan terjadi. Tetapi untunglah tak ada
kejadian buruk, sehingga kamipun harus puas berfoto foto seoalah olah sudah berada dipuncak dan semua pendaki bisa menikmati indahnya danau Segara Anakan.

Tak patutlah bila di sandingkan dengan tragedi everest tahun 1996 yang lalu, tetapi dengan melihat film everest 2015 yang sedang booming saat ini kita sebagai pendaki harus tetap belajar dan waspada tentang bahaya naik gunung.
Rob hall (Adventure Consultans)dan Scott Fischer (Mountain Madness) adalah dua orang petinggi EO yang melakukan kegiatan di Gunung Everest. Yang menyebabkan 5 orang pendaki dan satu orang guiede meninggal dunia.Dari buku yang ditulis Jhon krakauer Into Thin Air: A Personal Account of the Mt. Everest Disaster dijelaskan secara rinci semua kejadian pada tanggal 10 Mei 1996 sebagai seorang yang ikut melakukan pendakian disana. Dua organisasi yang membawa para pendaki kepuncak dan mengalami keterlambatan dari rencana harus turun dari puncak pada pukul 3 siang.Scott Fischer sendiri tidak dapat mencapai puncak meski waktu sudah jam 15:40 Begitu pula Doug Hansen (Kliennya Hall) tidak juga mencapai puncak setelah jam 16:00, dalam film everest ini Hall akhirnya mendampingi Doug hingga mencapai puncak meskipun melalui beberapa pertimbangan.
Sangat jauh berbeda dengan film yang booming di Indonesia diangkat dari sebuah novel best seller tentang gunung semeru. Film Everest ini banyak memberikan edukasi tentang teknik dan prosedur pendakian, dimana setiap pendaki walaupun dengan banyak pengalaman tetap diwajibkan beadaptasi selama satu bulan, dan dengan test kesehatan yang sangat ketat. Film tentang semeru hanyalah memberikan sebuah daya tarik gunung saja tanpa memberikan edukasi tentang pendakian yang benar. Akibatnya kini semeru bukan hanya diisi para pendaki yang berpengalaman tetapi makin banyak pendaki baru dengan banyak uanglah yang bisa menikmati indahnya Danau Ranu Kumbolo dan juga memiliki kebanggaan bisa berada di puncak tertinggi pulau jawa.
Dalam film Everest di gambarkan bahwa menjadi seorang leader itu bukan hanya bertanggung jawab membawa pendaki kepuncak gunung tetapi juga bertanggung jawab membawa semua pendaki bisa pulang dengan selamat. Saya bukan bermaksud membandingkan antara kondisi medan semeru 3.676mdpl dengan everest 8850mdpl tetapi secara SOP standar semua gunung itu sama, dimana untuk bisa melakukan kegiatan pendakian harus melakukan latihan fisik dan juga test kesehatan.
Ada sebuah acara lagi yang membuat saya waswas karena memberi inspirasi banyak orang tentang sebuah keasyikan berkegiatan dialam bebas. Acara traveling di salah satu TV swasta yang sekarang booming hingga semua marcendais dan makin banyak banner dengan tulisan program tersebut makin banyak terlihat ditempat tempat camping dan menjadi sebuah gaya hidup para pemuda masa kini.
Tak ada salahnya memang kita ikut memperkenalkan potensi wisata di Indonesia, tetapi resiko kegiatan alam itu juga tak boleh dijadikan permainan. Memang melihat dari film everest ini ada sebuah kekurangan ketika Anatoli mengevakuasi Sandy Hill Pittman, Charlotte Fox dan Tim Madsen secara bersamaan di tengah badai hebat di camp V /South Col (7900m) dan terpaksa meninggalkan Yasuko Namba (pendaki wanita jepang) karena kondisinya yang sudah sangat dekat dengan kematian. Begitu juga dengan Jhon Krakauer harus kembali ketika ditugaskan Rob hall untuk membantunya karena kondisi cuaca. sebuah peristiwa yang harus kita kaji terlebih dahulu. Antara menyelamatkan kondisi pribadi dulu baru orang lain seperti yang biasa di ucapkan oleh pramugrari pesawat terbang. Tetapi itu karena kondisi sangat darurat, dan kita harusnya mencoba mencontoh rob hall yang berusaha menolong Doug meskipun nyawa adalah taruhanya.
Ketika kondisi fisik menurun sifat egois manusia itu pasti akan muncul sehingga untuk bisa menekanya sangat diperlukan namanya pengalaman. Bila sebuah ego yang memaksa untuk mencapai puncak sedangkan pendakian itu adalah keselamatan tim kenapa tidak kita lebih memilih seluruh keselamatan tim dibanding kebanggan mencapai puncak. Ego Doug Hansen yang tak ingin gagal ketiga kalinya mencapai puncak malah membawa dirinya pada kematian 2 orang. sebagai sesama pendaki tentu kita akan saling membantu meskipun belum saling mengenal sebelumnya. Seperti Andy Harris yang mendampingi Rob hall di jalur hillary step seharusnya dia bisa selamat tetapi karena kebersamaanya lah akhirnya juga harus menjadi korban yang meninggal dunia.

Setiap orang bisa menikmati indahnya pemandangan alam digunung yang membentang, tetapi tidak semua orang bisa menikmati masalah yang terjadi di alam bebas

Tak ada yang menginginkan tragedi dalam setiap pendakian, tetapi sangat disanyangkan tak semua orang ingin mempelajari kenapa tragedi itu bisa terjadi


TAGS   reveiew film everest / mengenang tragedi everest 1996 /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive