Masih terus UP date

Bangsa Kasihan

12 Aug 2015 - 21:24 WIB

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum yang tidak dituainya
dan meminum anggur yang tidak diperasnya

Kasihan bangsa yang menjadikan orang bodoh menjadi pahlawan,
dan menganggap penindasan penjajah sebagai hadiah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya ketika tidur,
sementara menyerah padanya ketika bangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan di atas kuburan,
tidak sesumbar kecuali di runtuhan,
dan tidak memberontak kecuali ketika lehernya
sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang negarawannya serigala,
falsafahnya karung nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya
dengan trompet kehormatan namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan trompet lagi.

Kasihan bangsa yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang berpecah-belah,
dan masing-masing mengangap dirinya sebagai satu bangsa.


Kahlil Gibran

 

Puisi yang ditulis oleh Khalil Gibran pada tahun 1900 lalu itu makin terasa di tahun tahun belakangan ini, dimana kita ini sebagai rakyat dari bangsa Indonesia dihadapkan pada banyaknya konflik dan provokasi untuk memecah belah. Bangsa yang rakyatnya mulai kehilangan kepercayaan pada produk yang diciptakan oleh bangsanya sendiri.

Dan Bagaimanapun para penguasa makin menunjukan banyak kebodohannya dengan kepintaran kepintaranya untuk berkelit dari kesalahan. Tidak ada dari mereka yang berani mengakui kesalahan semua selalu menganggap berada dipihak yang benar.

Andaikan para pahlawan para pendiri bangsa ini bisa berteriak tentu mereka akan berteriak, mana perjuangan untuk bangsamu. Perjuanganmu kini hanya untuk perutmu sendiri. Akankan engkau lupa dengan sejarahmu dahulu.

Tanggal 17 Agustus 2015 nanti Indonesia tepat berusia 70 tahun. Jika kita menilik sejarah diusia 70th itu ternyata banyak kejadian yang mengarah pada kehancuran sebuah negara.

Ada sebuah teori dari Fernando Limongi (dosen Universitas Sao Paolo) dan Adam Przewoki (dosen Universitas New York) yang pernah melakukan kajian akademis berjudul “Modernization: Theories and Facts”. Teori Seven Factor menguraikan dengan gamblang usia sebuah negara. Sriwijaya, Majapahit, Uni Soviet dan Yugoslavia adalah buktinya. Ketika berusia 70 tahun itulah Sriwijaya dan Majapahit ditenggelamkan oleh sejarah. Uni Soviet terpecah menjadi 15 negara tahun 1991.Dan Yugoslavia yang dipersatukan dengan susah payah oleh Josip Broz Tito menjadi 7 negara kecil (Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, Makedonia, dan Kosovo).

Akankah Sejarah itu akan kembali terulang, akankah kita akan senang dengan perpecahan ini. Akankah kita mampu mewujudkan mimpi, sedangkan disaat terbangun kenyataan itu tak pernah lebih indah dari mimpi. Mimpi itu semua mulai dibeli, dan bangsa ini mulai menyerah ketika berhadapan dengan kenyataan. 

Masihkan Sejarah itu hanyalah sebuah cerita masa lalu, dan bila sejarah itu kembali terulang harus dinamakan apa???

Siapakah yang melupakan sejarah, siapakah yang harus mengingatkan sejarah??

Sebenarnya Sejarah itu masa lalu atau malah menjadi masa depan??

Ataukah kita lupakan saja Sejarah, dan kita jalani semuanya sekarang seolah olah tak ada??

Kita tetap teruskan pesta rakyat ini, kita teruskan semua hiburan ini.

Sudahlah Sejarah itu hanya masa laluku yang buruk, masa laluku yang terus kuingat

Bukan lah masalalumu, tak perlu mengingat masalalumu, karena kamu sedang senang sekarang

 

 


TAGS  


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive