Masih terus UP date

Berburu Sunrise di Ujung Timur Pulau Jawa (Teluk Ijo)

14 Jan 2014 - 09:35 WIB

983075bfae6db05941399c7f9ddda565_img_7603

Petang menjadi waktu yang mengawali dan mengakhiri perjalanan kami di Bumi Blambangan. Dimulai dari pukul pukul 04.15 di St. Karangasem hingga pukul 22.53 di st. Kalisetail. Dengan total waktu 42 jam ato 2 hari satu malam kami dari tgl 11 -12 Januari 2014, belumlah cukup bagi kami untuk mempelajari budaya dan mengunjungi semua tempat wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi.

Sebuah sejarah panjang dengan banyaknya budaya dengan berbagai hiasan hiasan tempat wisata belum mampu saya gambarkan dalam kunjungan pertama kali ini, tetapi dalam perburuan Sunrise Of Java kali ini saya berhasil mendapatkannya dan mengabadikan dalam bingkai cerita seru dengan irama irama yang menantang.

Berbicara budaya saya mendapatkan banyak cerita di Sebuah desa adat yang ditinggali suku asli Banyuwangi yaitu Suku Using di desa Kemiren, kecamatan Glagah. Disana saya disuguhi dengan gambaran masyarakat asli yang bersahaja dengan kesederhanaanya, sikap ramah terpancar selama kami mulai berjalan di sepanjang kampung hingga menuju rumah adat sanggar Genjar Arum.

Di sebuah warung kopi yang merupakan cikal bakal membawa Banyuwangi menjadi sebuah ikon kota Kopi, dengan mempelajari cara mengsangrai kopi, menumbuk, mengayak hingga mengemas kopi di praktekkan di sini. Sebuah acara yang disaksikan masyarakat Internasional hingga masuk rekor Muri pada tanggal 10 Desember 2011 Yaitu Sangrai Kopi Massal.

Sektor Agraris yang saat ini tak banyak dilirik oleh para pemuda dan pemudi inipun malah dijadikan Ikon oleh Kabupaten Banyuwangi. Diwakili oleh Margo Utomo yang menjadi tempat wisata Agraris dan peternakan. Tempat yang diakui oleh internasional sebagai penghasil Bumi, penghasil Keju beserta hasil Bumi yang melimpah ruah dari Kopi hingga Durian Merah yang merupakan Buah yang hanya tumbuh di Banyuwangi.

Sektor Wisata alampun layak bila disandingkan dengan Bali, walaupun harus dengan pengorbanan dan perjuangan yang sangat melelahkan tapi itu semua terbayarkan dengan indahnya pemandangan yang suguhkan di beberapa tempat wisata yang kami kunjungi. Sangat beruntung saya bisa sampai di Pantai Boom yang berhadapan dengan Pulau Bali, ketika mata ini masih sedikit terbuka akhirnya dengan semangat tersendiri dapat terbelak dengan pemandangan yang mungkin tak didapatkan didaerah lainya.

189c55fab5e21019c4540f0685e6ba8b_img_7596

Tirai tirai pegunungan Pulau Bali mulai tersingkap secara perlahan makin lebar dan makin membuka seluruh cakrawala untuk menyinari kami di Pantai Boom ini, sebuah potret lukisan dimana laut menjadi dasar dan angkasa menjadi batas atas lukisan indah ini. Dengan ornamen wisatawan lokal dan mancanegara tergambar disana, tentunya sinar kuning kemerah merahan menjadi ornamen paling dicari saat ini dan tak salah bila inilah yang disebut The Sunrise Of Java.

Perjuangan berat dimulai dengan perjalanan yang Panjang menyusuri Belantara Taman National Merubetiri kami banyak berkorban, mulai menahan rasa kantuk karena waktu istirahat yang sedikit hingga menahan rasa sakit karena jalur yang tak mulus. Mengetahui bahwa angkutan yang membawa kami adalah land Rover saya langsung berpikir bahwa perjalanan ini tak bakalan mudah, melewati hutan kopi dengan landasan berbatu batu yang membuat jantung berdetak keras karena terpesona dengan alam dengan pemandangan Laut, sawah dan hutan dengan batas batas jurang tertangkap indah oleh Mata ini.

Saya tiba di Pantai Rajegwesi, perbaduan pasir dan batuan serta deburan deburan ombak ini sebagai pembuka jalan menuju tempat tersembunyi yang sengaja dijaga oleh alam. Sebagian masyarakat menambahkan dengan mempertahankan ato hanya sedikit memanfaatkan potensi keindahan ini agar dapat mereka nikmati selama mereka masih hidup. Tak banyak yang dirubah dari tempat ini meskipun semakin bertambahnya penduduk disana, dan semakin meningkatnya pengunjung yang datang ketaatan kelestarian alam haruslah menjadi nomer satu dan tak seorangpun boleh merusaknya.

bcb4c1222cb0d487221b0ec4b5158828_img_7647Teluk Ijo sebagai tujuan saya membikin rasa penasaran yang luar biasa tinggi, dengan 2 pilihan jalur antara laut dan jalur darat. Jalur laut yang memberi keefisien waktu dengan pemandangan karang karang yang indah diantara tebing tebing yang tinggi. Atau jalur darat dengan tantangan alam yang tak dapat diprediksi keliaranya. Sayapun dengan sebagian teman memilih jalur kedua sebagai cara untuk menuju Teluk Ijo. Dengan bantuan Land Rover, kami mulai mendekat ke Pintu teluk Ijo, sedikit melakukan pendakian dengan iringan tebing disisi kiri makin membuka ruang untuk kami dapat melihat indahnya pantai luas sebatas kami memandang.

Jalur turunan tapi karena alam mempunyai cara tersendiri untuk menjaga dirinya5adae5980f125fd439a8532e440748bb_img_7675 menjadikan jalan ini tak semudah orang membicarakan. Meskipun pengaman jalur telah siap terpasang dengan berpegang pada tambang tambang yang kokoh tetap tak memudahkan perjalanan kami, sempat beberapa teman ku terpeleset jatuh sehingga pakaian pakaian mulai ikut kotor. Banyak sandal sandal mulai lelah dan akhirnya harus menyerah berada di kaki kaki kami, sehingga harus dibantu dengan tangan tangan yang bakal berjuang hingga ujung finis di Teluk Ijo.

Ketika tiba di Pantai berbatu kelegaan kami masih terganggu karena ternyata masih belum mencapai ujung yang kami inginkan, meskipun begitu pesona keindahan sebagai penghias perjalanan ku tetaplah memberikan prosentasi ketakjuban kami makin meningkat. Ketika kaki kaki mulai terserang kesakitan dengan panasnya batuan langkahku secara perlahan mulai meningkat dan makin melesat menuju pemberhentian akhir Teluk Ijo.

Pintu mulai terbuka dengan hamparan pasir sebagai alas seolah olah aku disambut dengan red carpet untuk memasuki Teluk Ijo, dan akhirnya perjuangan ku tak sia sia dengan hamparan pasir, iringan tebing tebing karang sebagai dinding dinding dan air laut berwarna kehijau. Teluk ijo menjadi obat bagi tubuh tubuh yang kelelahan, obat bagi kaki kaki yang kepanasan, dan memberikan semangat semangat yang sempat meluntur.

adb3cc130a676990c906798c9a152046_img_7710949d909fdfe22526679ea8ff612f1297_img_7738

Deburan ombak yang mengantarkan air air hijau mengundang kami untuk membelai, mendamaikan aku yang mulai kepanasan, memanjakan dengan menu menu kenikmatan yang terabadikan oleh pandangan mata. Tapi aku mulai tak dapat menggambarkan, mulai kesulitan untuk menuliskan dan tergagap untuk melukiskan. Hanya hati ini yang dapat berbicara betapa ke esaan tuhan itu sebagai anugerah buatku yang diberi kesempatan untuk membuktikan kesempurnaan ciptaanya.

Riuhnya orang disini yang memiliki ketakjuban yang sama, keriangan keriangan pengunjung sebagai asesoris, decak decak kagum yang tak pernah lepas dari mulut mulut kecil kami. Aku mulai tertawa dan semua orang mengamininya dengan tawa kebahagiaan. Kedamaian tercipta dengan suasana yang makin mempesona. Semua orang pasti ingin bertahan disini lebih lama tetapi banyak kepentingan kepentingan yang harus ku utamakan.

Akhirnya aku harus berpisah dengan Teluk Ijo melaui jalur laut, dengan perahu perahu nelayan mulai mengarungi lautan. Rintik hujan seolah olah ingin menahan ku untuk pergi, deburan ombak yang mulai meninggi mulai usil dan mencengkerang hati. Ganasnya air laut yang mulai menggunung ingin juga memberikan isyarat padaku untuk tetap bertahan di Teluk Ijo, ditambah lambaian lambaian ombak yang menghempas karang, dan memberikan ruang goa goa kecil untuk membuka pintu misteri yang menggoda untuk ikut disinggahi. Tapi perjalananku haruslah di akhiri dengan meninggalkan sejuta cerita ketakjuban, cerita pengalaman yang akan terbawa untuk selamanya.

By by Teluk Ijo terima kasih buat suguhan istimewahmu


TAGS   kabupaten banyuwangi / wisata banyuwangi /


Author

Recent Post

Recent Comments

Archive